Rhoma Irama, Maestro Dangdut

Dekat tak terlihat, yang jauh seolah dilebihkan. Sebuah buku yang luar biasa. Seniman, komponis, musisi besar Indonesia, Rhoma Irama. Seorang revolusioner, Avant Garde dalam dangdut. Tak dapat dipungkiri, dangdut merupakan refleksi 'kaum bawah'. Benarkah seperti itu? Andai benar, memangnya kenapa? Jika tidak, kenapa memangnya. Citra dalam masyarakat modern saat ini. Dangdut atau orkes Melayu, berakar dari keroncong dan tanjidor pada masa kolonial. Di buat untuk menyelaraskan, meyetarakan diri dengan budaya Eropa (orkes simponi). Gagasan mengangkat musik nasional adalah keroncong terjadi tahun 1938. Seiring dengan perkembangan situasi saat itu, keroncong tergilas. Rhoma dengan ramuan-nya, berhasil merevolusi dangdut. Belakangan, perpaduan keroncong dangdut, muncul Campur Sari, yang juga musik Indonesia. Alm. Didi Kempot maestronya.

Rhoma, juga seorang pujangga. Hal ini baru saya sadari, ketika membaca lirik/syair dalam karya-karyanya. Puitis, dalam, berpesan moral, lugas, menembus zaman. Seperti:
Sejalan dengan roda pembangunan,
Manusia makin penuh kesibukan,
Sehingga yang wajib pun terabaikan,
Sujud lima waktu menyembah tuhan,
Karena dimabuk oleh kemajuan,
Sampai komputer dijadikan tuhan.
Syair lain:
Tung keripit ahai tulang bawang,
Kalau bibir tergigit sakit bukan kepalang,
Tung keripit ahai tulang bawang,
Kalau pacar yang gigit sakit tak mau bilang. (Ea... :)). Masih banyak lagi.

Dangdut musik yang lentur, menyerap unsur 'asing' tanpa merubah citarasa dangdut. Secara kultur, ada kedekatan emosi buat saya dalam mendengar dangdut, campur sari, keroncong dan gamelan. Dangdut juga diperseterukan dengan rock, duel musik terbesar dalam sejarah musik. Hanya terjadi di Indonesia. Artinya, 'barat' dan yang 'kebarat-baratan' sebenarnya mengagumi dangdut. Joss Stone, penyanyi jazz asal Inggris ngefans dengan bang Rhoma. Di Indonesia apalagi, pentolan dewa, Ahmad Dani mengoleksi piringan hitam King of Dangdut. Belum yang lain. Rhoma adalah tokoh penting dalam sejarah musik Abad 21! Perlu kiranya mengkaji/membahas karya Satria Bergitar, baik musik atau lirik, sound gitarnya, ramuan-nya, dan perhatian lebih dari Negara

Komentar

Postingan Populer