Parfum dan Jazz
Membaca jazz lewat karya Seno Gumira ini dahsyat. Beliau saat ini adalah Rektor di Institut Kesenian Jakarta. Kubaca sambil mendengar album People Mover-nya Scott Hendeson yang berdurasi 59,9 menit. Sebuah album yang di buat tahun 2019. Scott merupakan gitaris fusion yang awalnya berangkat dari blues. Tidak perlu menjadi ahli musik untuk menyukai jazz. Memang, untuk memahami jazz butuh usaha, membaca dan mendengar. Semua ada harganya, sebelum semua bisa terbaca dan terdengar indah. Busyet..
Tidak semua hal harus diketahui semua orang. Benar, bukan? Kadang, hatiku terasa sakit, bukan untuk diriku, melainkan untuk neneknya. Busyet.., Aku menulis komposisi lewat huruf yang membentuk kata. Kelak, ia kan diartikan dengan berbagai makna.
Insiden itu membelalakan mata. Aku tak mau masuk kedalamnya. Berbeda era. Bikin kopi sepertinya enak pikirku. Sayang, harus kutahan sesaat, aku sedang berpuasa. Ramadhon kali ini nampak berbeda. Bukan di tempatku saja, tapi di penjuru dunia. Dampak dari virus Wuhan, yang bermula di Cina. Suasana hati orang dengan cepat berubah. Harga-harga meroket ke atas, kebijakan yang tak berpijak ke bawah, banyak pemutusan kerja. Hidup bukan jazz, atau hidup seperti jazz? Amboi..
Parfum itu begitu harum. Aku suka Lancome Tresor yang soft, juga Bvlgari BLV Blue punya Babe yang suka kusemprotkan ke badanku. Aromanya segar berkarakter biru. Susah mendefinisikan baunya. Wangi parfum bisa menguat jika sudah bersatu dengan bau tubuh. Wangi yang kuat memang terbuat dari ekstrak tubuh manusia dalam film perfume. Baunya menghipnotis siapa saja dan tunduk pada pemakainya. Sekuat apapun wanginya, kalau kamu tak pernah mandi, tetap saja bau bukan? Kecut? Busuk? Bujug..
Semua punya batas bukan? Sebut saja. Jangan mentang-mentang. Tidak ada yang tak terbatas. Kecuali, Sang Maha Segalanya, Sang Pencipta - Allah SWT.

Komentar
Posting Komentar