Cerita


Hari ini adalah hari yang di tunggu Brams. Tidak seperti biasanya, sehabis pulang sekolah ia di ajak Frangki untuk bermain di rumahnya. Dengan luas 10.000 m², siapa yang tak ingin mengunjunginya. Bukan kaleng-kaleng, terletak di jalan Mentreng, tempatnya orang mentereng. Brahms melihat rumah besar, mewah, megah, dari kejauhan tampak seperti kastel. Disekelilingnya tampak pohon besar yang daunnya berwana kuning. Ya, kita sudah sampai Brahms kata Frangki. Brahms hanya tertegun, gerbang besar itu tidak ada duanya. Terbuat dari titanium! Kulihat Frangki sedang asik dengan gawai canggihnya. Itu rumahmu Frank, tanya Brahms? Bukan, rumahku masih jauh. Itu rumah penjaga gerbang. Oh..Lagi-lagi Brahms tercengang. Tak terbayangkan besarnya biaya pajak dan operasional kastel ini. Frangki memang berdarah merah, bukan seperti kebanyakan orang bilang. Mana ada orang yang berdarah biru, gumamnya. Inilah rumahku Brahms, rumah besar yang hampa. Semua asyik dengan tangannya. Kepala mereka selalu menunduk ke bawah, matanya fokus pada satu layar, entah apa yang dipencetnya. Apakah ini suatu kemajuan budaya bramhs? Brahms tak menjawabnya. Semua fasilitas, teknologi terbaru ada di sini, 5G pun sudah! Sebentar, kata Brahms. Aku lupa bahwa jaman yang dibilang serba 'moderen', serba canggih ini, belum ada apa-apanya dibanding dengan zaman Nabi Sulaiman. Frangki terperanjat,,nafasnya terengah, mengambil segelas air bening sambil berusaha menenangkan diri, ia kembali melanjutkan tidurnya.

Komentar

Postingan Populer