Kantin Taman Ismail Marzuki


Romantisme tentu tidak di larang. Bisa dengan 'mendengar', juga 'melihat'. Pemusik tentu lebih peka dengan getaran bunyi. Dengan catatan kecil, belakangan ini semakin banyak berkembang 'pemusik visual'. Memang, perlu waktu yang tidak sedikit untuk melatih rumah siput. Sedangkan godaan visual terberat adalah menahan pandangan agar tidak belok ke kiri maupun ke kanan. Di bungkus dalam satu getaran, dari mata turun ke hati. Itu kalau jatuh tertimpa cinta. Sayangnya bukan. Kenangan dapat muncul tanpa di undang, baik lewat organ korti atau retina. Menunda pembayaran saat nasi sudah menjadi energi misalnya. Namanya juga kantin, apakah dulur mempunyai kenangan indah tentang kantin? Seperti jepretan foto ini, Alhamdulillah sempat terdokumentasikan. Sebagai romantisme dalam keurbanan, tanpa sentimental berlebihan.

Komentar

Postingan Populer