Komponis Indonesia
1. Definisi Komponis
Tahun 1979, Dewan Kesenian Jakarta memprakarsai festival musik komposisikomposisi baru dalam forum tahunan bernama Pekan Komponis Muda. Sebutan komponis, karya, dan komposisi dipertegas dan diperkenalkan secara luas kepada masyarakat sejak saat itu (Hardjana, 2003: 71). Umumnya, banyak masyarakat mengartikan komponis sebagai pembuat lagu. Ada juga yang membedakan antara komponis dengan pencipta lagu (song writer) dan penggubah (arranger). Secara teknis, komponis membuat musik secara lengkap, termasuk pengorkestrasian dan bagaimana cara untuk memainkannya secara detail. Pencipta lagu adalah orang yang membuat melodi, baik syair atau lirik (dengan atau tanpa simbol musik), sedangkan penggubah lagu bertugas memperluas dan membuat kreasi lagu atau melodi buatan orang lain.
2. Komponis Indonesia era 1902 - 1915
Periode awal 1900-an sebelum kemerdekaan bangsa Indonesia diraih, banyak terlahir para komponis besar Indonesia, antara lain:
a. Raden Machjar Angga Koesoemadinata
Pak Machjar yang lebih dikenal sebagai seorang komponis lagu-lagu Sunda, sebenarnya adalah seorang pendidik dan pakar musikologi. Ia lahir di Sumedang, Jawa Barat, pada 7 Desember 1902. Pak Machjar menciptakan lagu-lagu tradisional Sunda seperti “Lemah Cai”, “Dewi Sartika”, dan “Sinom Puspasari”.
b. Wage Rudolf Soepratman
W.R Soepratman adalah seorang pahlawan Indonesia yang menciptakan lagu kebangsaan republik ini. Ia lahir di Dusun Trembelang, Desa Somongari, Kecamatan Kaligesing, Kabupaten Purworejo, Jawa Tengah, pada 9 Maret 1903. Ia memulai kariernya sebagai wartawan surat kabar Kaoem Moeda. Setahun berselang, Soepratman pindah ke Jakarta dan menjadi wartawan surat kabar Sin Po. Lagu “Indonesia Raya” ciptaannya diperdengarkan pertama kali sebelum putusan kongres pemuda yang kini dikenal sebagai Sumpah Pemuda dibacakan. Pada saat itu, Soepratman sendiri yang memainkan biola. Salah satu karya lainnya ialah lagu “Ibu Kita Kartini”.
c. Saridjah Niung
Saridjah Niung lebih dikenal oleh masyarakat dengan nama Ibu Sud. Ia lahir di Sukabumi, 26 Maret 1908. Ia adalah seorang komponis, pemusik, guru musik, pembuat lagu anak-anak, dan seniman batik. Ibu Sud merupakan tokoh musik tiga zaman, yakni zaman penjajahan Belanda, penjajahan Jepang, dan kemerdekaan Indonesia. Ibu Sud mahir memainkan biola. Ia turut mengiringi lagu Indonesia Raya bersama W.R. Soepratman pada tanggal 28 Oktober 1928. Banyak karya Ibu Soed yang menjadi lagu populer dan tak lekang oleh waktu. Ibu Sud menciptakan lagu kebangsaan yang mempunyai semangat patriotisme tinggi, ia juga banyak melahirkan lagu anak-anak antara lain “Anak Kuat”, “Berkibarlah Benderaku”, “Bendera Merah Putih”, “Burung Kutilang”, “Dengar Katak Bernyanyi”, “Desaku”, “Becak”, “Indonesia Tumpah Darahku”, dan “Hymne Kemerdekaan”.
d. K.P.H. Notoprojo
K.P.H. Notoprojo adalah seorang empu karawitan. Pemain gamelan ini lahir di Gunungketur, Pakualaman, Yogyakarta pada 17 Maret 1909. Ia terkenal dengan komposisi musiknya yakni “Kuwi Opo Kuwi”, “Gugur Gunung”, dan “Modernisasi Desa”. Banyak karya musik serta dua volume notasi musik vokal K.P.H. Notoprojo diterbitkan oleh American Gamelan Institute.
e. Kusbini
Kusbini lahir di Mojokerto, Jawa Timur, 1 Januari 1910. Karya-karya Kusbini banyak yang berjenis keroncong seperti “Keroncong Purbakala”, “Pamulatsih”, “Bintang Senja Kala”, “Keroncong Sarinande”, “Keroncong Moresko”, “Dwi Tunggal”, dan “Ngumandang Kenang”. Selain Gesang, Kusbini juga merupakan pakar keroncong.
Di samping jenis keroncong, Kusbini juga menciptakan lagu dengan jenis lainya. Lagu “Bagimu Negeri” yang dikenal sebagai lagu wajib perjuangan, diciptakan Kusbini tahun 1942. “Bagimu Negeri” ditetapkan sebagai lagu nasional pada tahun 1960. Selain komponis, Kusbini juga salah satu pendiri Akademi Musik Indonesia (AMI) cikal bakal Institut Seni Indonesia Yogyakarta.
f. Ismail Marzuki
Ismail Marzuki lahir di Kwitang, Senen, Batavia pada 11 Mei 1914. Ia memulai debutnya di bidang musik pada usia 17 tahun. Saat itu, ia berhasil mengarang lagu untuk pertama kalinya, yakni “O Sarinah” pada tahun 1931. Beberapa karyanya antara lain “Aryati”, “Gugur Bunga”, “Melati di Tapal Batas”, “Wanita”, “Rayuan Pulau Kelapa”, “Sepasang Mata Bola”, dan “Keroncong Serenata”. Namanya diabadikan sebagai suatu pusat seni di Jakarta yaitu Taman Ismail Marzuki (TIM).
g. Hadi Sukatno
Ki Hadi Sukatno lahir di Delanggu, Klaten pada 26 Mei 1915. Pak Katno, panggilan akrabnya, adalah seorang seniman, komponis lagu daerah, dan pencipta tembang dolanan anak. Pak Katno ditempa di lingkungan perguruan Tamansiswa Yogyakarta. Pak Katno menekuni, mengasuh, dan menciptakan gending dan tembang Jawa. Interaksinya dengan Tamansiswa kemudian mendorong Pak Katno untuk menciptakan lagu untuk pembelajaran, melalui media seni permainan anak Jawa (dolanan anak). Karya Pak Katno sebagian besar bersumber pada dongeng rakyat tradisional yang diangkat menjadi permainan anak-anak. Sesekali juga dibuatnya karya modern seperti untuk peringatan hari Kartini, Serangan Umum 1 Maret, Hari ABRI, atau yang berlatar belakang perjuangan. “Jaranan”, “Yo Prokonco”, dan “Pitik Walik Jambul” adalah beberapa judul tembang dolanan yang dibuatnyaatau yang berlatar belakang perjuangan. “Jaranan”, “Yo Prokonco”, dan “Pitik Walik Jambul” adalah beberapa judul tembang dolanan yang dibuatnya. belakang perjuangan. Jaranan, Yo Prokonco, Pitik Walik Jambul adalah beberapa judul tembang dolanan yang dibuatnya.
3. Musik Kontemporer
Kontemporer dalam KBBI berarti pada waktu yang sama; semasa; sewaktu; pada masa kini. Kontemporer dalam musik dikaitkan dengan gaya, metode, gagasan terbaru, dan sebagainya. Musik kontemporer merupakan suatu jenis musik di luar pakem musik pada umumnya. Hardjana (2004: 261) menyebut Slamet Abdul Sjukur adalah penyebar/pionir pertama musik kontemporer di Indonesia. Harjana juga mengatakan, salah satu ciri musik kontemporer abad ke-20 adalah bentuk-bentuk musicianship dalam formasi kecil sampai ansambel madya, baik dalam instrumen gesek, orkestra, tiup, campuran, maupun ansambel tetabuhan. Menurut Dieter Mack, musik kontemporer di Indonesia dapat dibagi menjadi tiga, yaitu musik kontemporer dalam idiom tradisi barat, musik kontemporer yang bersumber dari unsur etnik, musik baru yang berlatar belakang budaya Indonesia dan budaya barat. Ciri-ciri lain musik kontemporer yang dapat dikenali adalah judul. Setiap komposisi terlihat unik, simpel, aneh atau di luar judul lagu pada umumnya. Teknik dalam memainkan instrumen musiknya tidak baku atau sebagaimana biasanya, misalnya instrumen musik Gong digesek, ada pula alat musik orkestra yang menirukan suara alat tradisional seperti saron, gender, kendang. Contoh teknik pencarian sumber bunyi dalam beberapa karya musik kontemporer seperti penggunaan generator gelombang bunyi, penggunaan batu sebagai media sumber bunyi, eksplorasi semua benda/bahan yang dianggap bisa mengeluarkan suara/bunyi. Benda yang dieksplorasi oleh komposer seperti benda yang terbuat dari besi, kayu, plastik, kaleng, dan materi alam. Komponis kontemporer biasanya hanya memberikan bentuk ilustrasi, tulisan, atau simbol notasi musik yang hanya diketahui oleh komposer dan musisi yang memainkannya.
4. Komponis Indonesia Era 1916 - 1937
Berikut sejumlah tokoh komponis Indonesia era 1916 - 1937:
a. Husein Mutahar
H. Mutahar lahir di Semarang, Jawa Tengah, 5 Agustus 1916. Ia adalah seorang negarawan pada masa awal kemerdekaan Indonesia. Ia juga dikenal sebagai komponis musik lagu kebangsaan dan kepanduan. Lagu ciptaannya yang populer adalah hymne “Syukur” (diperkenalkan Januari 1945) dan mars “Hari Merdeka” (1946). Lagu lain yang dibuatnya antara lain “Gembira”, “Tepuk Tangan Silang-Silang”, “Mari Tepuk”, dan “Slamatlah”.
b. Gesang Martohartono
Gesang lahir di Surakarta, 1 Oktober 1917. Beliau adalah seorang penyanyi dan pencipta lagu Jawa yang dikenal sebagai maestro keroncong Indonesia. Gesang terkenal melalui lagu ciptaannya, “Bengawan Solo”. Lagu ini dibuat tahun 1940, saat usianya menginjak 23 tahun. “Bengawan Solo” tercipta karena kekagumannya akan sebuah sungai bernama sama. Lagu tersebut sangat populer di Jepang dan kini telah diterjemahkan dalam berbagai bahasa, seperti Rusia, Inggris, Korea, dan Cina. Lagu Gesang yang lain seperti “Pamitan”, “Caping Gunung”, “Jembatan Merah”, “Saputangan”, “Si Piatu”, “Roda Dunia”, “Dunia Berdamai”, dan “Tirtonadi”.
c. Liberty Manik
L. Manik lahir 21 November 1924 di Sidikalang, Sumatera Utara. Selain sebagai komponis, ia juga seorang akademisi dan filolog (ahli bahasa) Pakpak Kuno. Pada 1954, L. Manik mendapat beasiswa dari Lembaga Kerjasama Indonesia-Belanda untuk memperdalam seni musik di Amsterdam. Ia lulus sebagai dirigen paduan suara pada 1955. Beasiswa kembali diperoleh L. Manik dari Pemerintah Jerman untuk melanjutkan studinya di Freie Universitat, Berlin Barat, pada tahun 1959. Ia berhasil lulus dengan predikat Magna Cum Laude tahun 1968. Salah satu karya L. Manik yang terkenal adalah lagu “Satu Nusa Satu Bangsa”.
d. Ki Nartosabdo
Ki Nartosabdo lahir dengan nama Soenarto di Wedi, Klaten, Jawa Tengah, pada 25 Agustus 1925. Saat berusia 11 tahun, ia mampu memainkan instrumen rebab, gendang, dan gender. Ki Nartosabdo lebih dikenal sebagai maestro dalang, tetapi, ia juga seorang komponis. Melalui grup karawitan bernama Condong Raos yang ia dirikan, lahir ratusan judul lagu (lelagon) atau gending, antara lain “Caping Gunung”, “Gambang Suling”, “Ibu Pertiwi”, dan “Klinci Ucul”. Gending karyanya memiliki karakter khas, sehingga disebut dengan gending-gending Nartosabdhan.
e. A.T. Mahmud
Masagus Abdullah Mahmud atau lebih dikenal dengan nama A.T. Mahmud lahir di Palembang, Kampung 5 Ulu Kedukan Anyar, pada 3 Februari 1930. AT Mahmud telah menciptakan ratusan lagu. Ia seorang maestro dan komponis lagu anak. Menurutnya, dalam menciptakan lagu harus memiliki 3 unsur utama yaitu bahasa nada, bahasa emosi, dan bahasa gerak. Dalam wawancara yang dilakukan oleh Yayat Sudrajat (tokoh.id), A.T. Mahmud mengungkapkan “Bagaimana ketika anak saya menanyakan tentang pelangi dan meminta bulan, itu adalah ungkapan pikiran dan perasaannya. Saya tambahkan nada dan saya terjemahkan dalam lagu.” Beberapa karya lagu A.T. Mahmud antara lain “Amelia”, “Cicak”, “Pelangi”, “Bintang Kejora”, dan “Ambilkan Bulan”. Semua lagu ciptaannya mengandung unsur edukasi yang bermanfaat bagi perkembangan kecerdasan dan kepribadian anak-anak.
f. Slamet Abdul Sjukur
Slamet Abdul Sjukur adalah seorang komponis kontemporer. Ia lahir di Surabaya, Jawa Timur, pada 30 Juni 1935. Slamet disebut sebagai salah seorang pionir musik kontemporer Indonesia. Salah satu gagasan komposisinya disebut minimaks, yaitu membuat musik dengan menggunakan bahan yang sederhana dan minim. Karya-karya Slamet lebih banyak digemari dan dikenal mancanegara, khususnya Eropa seperti “Ketut Candu”, “String Quartet I”, “Silence”, “Point Cotre”, “Parentheses I-II-III-IV-V-VI”, “Jakarta 450 Tahun”, dan “Daun Pulus”.
g. Trisutji Kamal
K.R.A. Trisutji Djuliati Kamal atau lebih dikenal dengan nama Trisutji Kamal lahir di Jakarta, 28 November 1936. Ia adalah seorang seniman. Ia juga dikenal sebagai komponis untuk piano, flute, dan vokal. Trisutji adalah wanita Indonesia pertama yang belajar di Konservatorium St. Caecilia, Italia. Karya-karyanya telah dimainkan sejumlah pianis dunia di beberapa negara. Ia telah menghasilkan lebih dari 200 karya komposisi. Salah satu karya operanya yang terkenal berjudul “Loro Jonggrang”.
h. Titiek Puspa
Titiek Puspa adalah komponis wanita dengan ratusan karya. Ia lahir di Tanjung, Tabalong, Kalimantan Selatan, pada 1 November 1937. Titiek Puspa kecil suka sekali bernyanyi, terutama nembang musik kesenian tradisional Jawa. Titiek puspa juga dikenal sebagai penyanyi, bintang film, dan koreografer. Beberapa karyanya antara lain “Apanya Dong”, “Marilah Kemari”, “Pantang Mundur”, dan “Ayah”.
i. Idris Sardi
Idris Sardi, seorang violis, komponis dan ilustrator musik yang lahir 7 Juni 1939 di Batavia (Jakarta). Ia bermain biola sejak usia enam tahun. Ia mendapat julukan sebagai anak ajaib, karena di usia belia mampu memainkan biola dengan lincah. Selain maestro biola, Idris Sardi sukses sebagai ilustrator dan penata musik film. Dia meraih beberapa penghargaan komponis dan ilustrator musik untuk film, antara lain piala citra untuk nominasi penata musik terbaik dalam film “Sesuatu yang Indah” (1977), “Doea Tanda Mata” (1985), “Ibunda” (1986), “Tjoet Nja Dhien” (1988).
5. Komponis Indonesia dari era 1949 - sekarang
Berikut ini beberapa nama komponis setelah Indonesia Merdeka, antara lain:
a. Rahayu Supanggah
Rahayu Supanggah lahir di Boyolali, 29 Agustus 1949. Komposisi Panggah berangkat dari musik tradisi Jawa, khususnya gamelan. Sejak dekade 1970-an, Panggah aktif sebagai pengrawit, komponis, penata musik, penulis, peneliti, guru, manajer, dan budayawan. Panggah telah menelurkan ratusan komposisi dan penataan musik dalam berbagai genre seni pertunjukan seperti tari, film, teater, opera, wayang, dan konser. Ia juga aktif berkolaborasi dengan seniman nusantara hingga mancanegara. Salah satu contohnya adalah kolaborasi Panggah dengan Kronos (Amerika) yang membaurkan alat musik Jawa (gender, kendang, gong) dan alat musik gesek barat.
b. Jaya Suprana
Jaya Suprana lahir 27 Januari 1949 di Denpasar, Bali. Ia tinggal di Semarang, Jawa Tengah. Memasuki usia remaja, Jaya Suprana hijrah ke Jerman untuk mengenyam pendidikan menengah dan perguruan tinggi dengan fokus studi musik. Pendiri Museum Rekor Indonesia (MURI) dan pencetus kelirumologi ini mempunyai beragam predikat, mulai dari pengusaha, pembicara, presenter, penulis, kartunis, pemain piano, hingga komponis. Karyakaryanya banyak terinspirasi dari dari musik gamelan Jawa, Bali, Sunda, Melayu, Batak, Maluku, keroncong, dan dangdut.
c. I Wayan Sadra
Sadra lahir di Banjar Kaliungu Kaja, Kota Denpasar, pada 1 Agustus 1953. Saat kanak-kanak, Sadra memainkan gamelan di banjar (balai setingkat RW) bersama para orang tua. Sejak 1979, ia membuat musik untuk konser, musikalisasi puisi, teater, ilustrasi untuk film kartun, iringan tari, dan seni instalasi.
d. Marusya Nainggolan
Marusya Nany Fayme Nainggolan lahir di Bogor, Jawa Barat, pada 24 Agustus 1954. Peraih gelar master di bidang komposisi musik dari Universitas Boston, Amerika Serikat (1989) adalah alumnus pertama Departemen Seni Musik Institut Kesenian Jakarta (1979). Beberapa karyanya antara lain “Night II” untuk violin solo, “Conversation II” untuk sekstet alat gesek Betawi, piano, dan kendang Bali. Marusya juga membuat musik ilustrasi “Opera Jakarta” karya Syuman Jaya.
e. Elfa Secioria
Nama lengkap penyanyi yang lahir di Garut, Jawa Barat, pada 20 Februari 1959 ini adalah Elfa Secioria Hasbullah. Ia berlatih piano pada usia lima tahun. Selama karirnya, Elfa menjadi pengaransir orkes Telerama dan untuk Candra Kirana di TVRI sebanyak 14 kali. Elfa kerap membidani kelahiran bibit-bibit penyanyi baru yang berkualitas di bidang musik. Selain sebagai komponis, ia juga pembuat lagu handal dan mendirikan grup vokal legendaris Elfa’s Singer.
f. Purwacaraka
Purwacaraka lahir di Beograd, Yugoslavia, 31 Maret 1960. Di usia tujuh tahun, Purwacaraka telah berkenalan dengan alat musik piano. Ia sering tampil sebagai pemusik pengiring dalam sejumlah acara di televisi. Karya musik Purwacaraka dalam bentuk lagu maupun musik ilustrasi sering menghiasi film dan sinetron Indonesia. Ilustrasi musik pada sinetron Si Doel Anak Sekolahan tahun 1990-an adalah salah satu karya yang sampai sekarang masih dikenang banyak penggemarnya.
g. Ben Pasaribu
Ben Pasaribu lahir 1961 di Tarutung, Medan. Ben pasaribu adalah seorang komponis dan perkusionis yang handal. Ben adalah cucu dari Amir Pasaribu (seorang pianis, kritikus, dan komponis Indonesia). Dalam karyanya, Ben sering menggunakan medium elektronis. Sayangnya, banyak karya Ben, baik secara tertulis maupun bentuk rekaman, tidak banyak terpublikasi. Di satu sisi, untuk menampilkan karya-karyanya, Ben memerlukan suasana “ke-saat-an” (live/langsung). Beberapa karya Ben ialah “Patotorhon Samboan”, “Imaginary Ceremony”, dan “Nerhen Surasura”.
h. Tohpati Ario Hutomo
Tohpati lahir di Jakarta, 25 Juli 1971. Ia lebih dikenal sebagai seorang gitaris. Karya-karya Tohpati memadukan elemen kebudayaan tradisional sejalan dengan usahanya untuk memadukan unsur modern dan unsur tradisional Indonesia dalam musiknya. Tohpati dikenal sebagai musisi yang memiliki visi mempopulerkan musik tradisional agar lebih mendunia. Selain sibuk dengan karir solo, band, komposisi, kolaborasi, Tohpati juga membantu rekaman penyanyi Tanah Air sampai mancanegara, seperti Krisdayanti, Rossa, mendiang Chrisye hingga Sheila Madjid.
i. Iwan Gunawan
Iwan Gunawan adalah komponis kelahiran Bandung tahun 1974. Sejak usia 6 tahun, Iwan mulai bermain gamelan dan mendalami ragam kesenian Sunda. Karya Iwan sebagian besar dinotasikan sebagaimana sistem not balok atau dibuatkan untuk komputer (musik elektronis). Iwan banyak bereksperimen dengan teknologi digital dan sampling bunyi-bunyi hingga membuat beberapa karya elektronis. “Kulu-Kulu 97” dan “Kulu-Kulu 2004” adalah beberapa judul karya dibuat oleh Iwan
j. Melly Goeslaw
Meliana Cessy Goeslaw lahir di Bandung, Jawa Barat, 7 Januari 1974. Ia lebih dikenal dengan nama Melly Goeslaw. Melly adalah seorang penyanyi, penulis lagu, penata musik, dan komponis yang banyak membuat lagu populer. Beberapa lagu ciptaannya antara lain “Jika”, “Menghitung Hari”, “Yang Kumau”. Selain itu, ia juga membuat dua buah lagu untuk penyanyi populer asal Malaysia, Siti Nurhaliza, yakni “Biarlah Rahasia” dan “Pastikan”.
Komentar
Posting Komentar