Kolaborasi Budaya Dua Negara. Bertemu di Bosnia, Tampil Di Indonesia.
Oleh Muhammad Rusmadi, Rakyat Merdeka 17 September 2022
Meski mendung menggelayut, suasana di Cemara 6 Galeri Museum di kawasan Menteng, Jakarta Pusat, Rabu (7/9) sore pekan lalu, justru ceria dan hangat. Sekitar pukul 16:00 WIB, para pengunjung sudah berdatangan dan mulai memenuhi bangku di ruangan lantai 2.
Cemara 6 Galeri-Museum adalah pusat kegiatan seni budaya, didirikan oleh mendiang Prof Toeti Heraty Roossenno, Guru Besar Filsafat. Dia juga salah seorang pendiri Universitas Gadjah Mada (UGM) dan Yayasan Perguruan Cikini, mantan Ketua Program Pascasarjana Filsafat Universitas Indonesia Universitas Indonesia (UI), Ketua Program Pascasarjana UI Bidang Studi Filsafat dan Rektor Institut Kesenian Jakarta (IKJ) pada 1990-1995.
Agenda hari itu; Sevdah Musical Perform, kolaborasi Raffid Subašić, musisi perkusi dan vokalis asal Bosnia-Herzegovina dan Dimas Phetorant, gitaris, yang juga Wakil Dekan III Fakultas Seni Pertunjukan IKJ.
Mengutip Last.fm, sebuah situs web musik yang didirikan di Inggris Raya, sevdah adalah genre musik tradisional dari Bosnia dan Herzegovina, sebuah negara di semenanjung Balkan di selatan Eropa. Sevdah juga disebut dengan istilah sevdalinka. Namun komposer sebenarnya dari sevdalinka ini tak pernah diketahui.
Sementara dikutip dari Roads & Kingdoms, publikasi online independen yang mengeksplorasi budaya dan politik melalui kuliner dan travelling yang berbasis di Brooklyn, New York, dan Barcelona, Spanyol, kata sevdah berasal dari kata bahasa Arab, sawda, yang berarti empedu hitam. Zaman dahulu, para dokter bangsa Arab dan Yunani kuno percaya, bahwa emosi diatur salah satunya oleh ‘empedu hitam’, yang bertanggung jawab atas suasana hati yang melankolis. Dalam perkembangannya, kata sawda berubah menjadi sevda dalam bahasa Turki, yang berarti ‘cinta yang menyakitkan’. Orang Bosnia kemudian menambahkan “h”, hingga sewda pun berubah menjadi sewdah.
Pada era Kesultanan Dinasti Utsmaniyah (Ottoman Empire), lagu-lagu tersebut diiringi oleh saz Turki, alat musik seperti kecapi berleher panjang. Namun sejak pendudukan Austria di Bosnia dan Herzegovina pada 1878, akordeon menjadi populer dan terus digunakan selama abad ke-20. Dalam arti musik, sevdah dicirikan dengan tempo lambat atau sedang dan harmoni yang kaya, meninggalkan perasaan melankolis bagi pendengarnya. Sementara lagu-lagu sevdah pun sangat rumit dan emosional.
Musik ini pada dasarnya perpaduan unsur Oriental, Eropa dan Sephardic (pengaruh budaya Yahudi Spanyol), hingga membuat jenis musik ini menonjol di antara jenis musik folk dari Balkan. Si penyanyi akan sering memaksakan ritme dan tempo lagu, yang keduanya dapat bervariasi sepanjang lagu.
Secara tradisional, sevdah sebenarnya adalah lagu yang biasa dinyanyikan kaum perempuan. Sebagian besar temanya berisi tentang cinta dan kerinduan, cinta yang tak berbalas dan malang, beberapa menyentuh keinginan fisik perempuan untuk kekasihnya, dan beberapa memiliki elemen komik. Namun kini, musik ini juga ditampilkan oleh penyanyi laki-laki.
Secara tradisional pula, sevdah dimainkan tanpa instrumen apa pun, sehingga menghasilkan harmoni yang rumit. Namun dalam interpretasi modern, sevdah lalu diikuti oleh orkestra kecil yang berisi akordeon (paling menonjol), biola, gitar senar nilon dan/atau instrumen senar lainnya. Yaitu seruling atau klarinet (kadang-kadang), bass tegak, snare drum. Di sela-sela syair, akordeon atau biola solo hampir selalu terdengar.
Sevdah, Senandung Dari Negeri Balkan
Penampilan sevdah, genre musik tradisional asal Bosnia dan Herzegovina di Cemara 6 Galeri-Museum di kawasan Menteng, Jakarta Pusat, Rabu (7/9) lalu, adalah buah pertemuan Inda Citraninda Noerhadi dengan Tri Retno Kawuri pada 2016 di Bosnia. Inda yang juga Ketua Dewan Pertimbangan Institut Kesenian Jakarta (IKJ), adalah putri mendiang Prof Toeti Heraty Roossenno, pendiri Cemara 6 Galeri-Museum. Kini, Inda adalah Direktur Cemara 6 Galeri-Museum.
Sementara Retno, adalah Staf Protokol dan Konsuler di Kedutaan Besar RI (KBRI) Sarajevo, Bosnia Herzegovina. Dia adalah juga istri Raffid Subašić, musisi perkusi dan vokalis asal Bosnia. Perempuan asal Kediri, Jawa Timur ini sudah lebih dari 20 tahun tinggal di Bosnia.
Sedangkan Raffid adalah artis, musisi perkusi dan vokalis asal Bosnia-Herzegovina. Rabu itu, bersama Retno, dia tampil berduet membawakan musik tradisional Bosnia, sevdah, berkolaborasi dengan Dimas Phetorant, gitaris, yang juga Wakil Dekan III Fakultas Seni Pertunjukan Institut Kesenian Jakarta (IKJ).
Sebelumnya, Raffid telah merilis dua album dan aktif mewakili musisi Bosnia di Euro Song pada 2001 dengan Al’Dino (nama panggung dari Aldin Kurić), penyanyi, penulis lagu dan komposer Bosnia) di Perancis. Pada 2002 ia aktif bepergian ke negara-negara Eropa Barat dengan Dino Merlin ke konsernya. Dino Merlin (Edin Dervišhalidović) adalah penyanyi-penulis lagu, musisi, dan produser rekaman asal Bosnia. Dia juga pendiri dan pimpinan Merlin, salah satu band rock terlaris di Eropa Tenggara. Tidak hanya lagu pop, Raffid juga sangat berbakat membawa emosi melalui lagu tradisional Bosnia, sevdah dan nasyid Islami dalam bahasa Bosnia, Arab dan Turki. Raffid juga menguasai daff dan instrumen perkusi lainnya. Termasuk darbuka, “gendang piala”, membranofon kepala tunggal dengan piala berbentuk dandang, telah ada selama ribuan tahun dan digunakan dalam budaya Mesopotamia dan Mesir kuno, juga terlihat di Babilonia dan Sumeria dari awal 1.100 SM.
Pada 2003 Raffid mewakili Bosnia dan Herzegovina dengan bandnya, Oriental Bend ke Salzburg, Austria, mengikuti Kompetisi Etno Music. Lalu pada 2007 dan 2011, ia merilis album hits berjudul Sreca and Trag dan Licu. Selain itu, Sarjana Tata Rias dari Sekolah Kosmetik Stadtliche Garmisch-Partenkirche Jerman ini, juga aktif sebagai model untuk Sarajevo Fashion Week pada 2005 hingga 2008 dan beberapa peragaan busana di Bosnia dan Herzegovina. Tak cuma itu, Raffid juga adalah moderator, penyanyi dan musisi untuk program di Radio Bosnia dan Herzegovina, yang mempromosikan budaya Bosnia dan Herzegovina.
Sementara Dimas Phetorant, juga musisi dengan segudang pencapaian. Di antaranya, pada tahun 2000 dia membentuk sebuah band musik. Lalu pada 2002, dia menyabet Juara Pertama Piala Bergilir Bupati Buleleng untuk Gema Musik Pemuda dalam rangka Hari Sumpah Pemuda. Pada 2003, Dimas juga meraih Juara Ketiga Festival Rock di Singaraja, Bali. Dari 2007-2015, dia menjadi instruktur gitar klasik dan elektrik di Purwacaraka Musik Studio (Jakarta), sebuah perusahaan yang berdedikasi dalam pendidikan musik (dengan hampir 20 tahun pengalaman, Purwa Caraka Musik Studio memiliki 76 kantor cabang di seluruh Indonesia, dengan 22.000 siswa yang terdaftar setiap tahunnya).
Antara 2009-2012, Dimas menjadi instruktur Gitar Chic’s Music. Kemudian sejak 2012, dia mengajar di Fakultas Seni Pertunjukan & Fakultas Film dan Televisi, Institut Kesenian Jakarta. Pada 2016 dia juga pernah menjadi juri Festival dan Lomba Seni Siswa Nasional (FLS2N), hingga menjadi gitaris untuk band Otaku Banzai 2003-2010, dan Kian Band 2010-2012.
Terkait gelaran sevdah di Cemara 6 Galeri-Museum, Menteng, Jakarta ini, berawal ketika Inda dan Prof Toeti berkunjung ke Bosnia bersama keluarganya pada 2016. Saat itu, mereka bertemu Retno. Lalu ketika Retno “mudik” antara 18 Agustus sampai 11 September lalu ke Indonesia, kesempatan ini pun mereka manfaatkan untuk menggelar pertunjukan sevdah. Sebagai upaya memperkenalkan salah satu bentuk musik tradisional Bosnia ke masyarakat Indonesia. Juga tentunya, untuk terus mempererat hubungan budaya Bosnia-Indonesia,” jelas Inda, di sela-sela penampilan Raffid, yang berduet dengan sang istri, Tri Retno Kawuri. Selain di Cemara 6 GaleriMuseum, Jakarta, Raffid dan Retno juga tampil di kota kelahiran Retno, Kediri, Jawa Timur dan menggelar workshop di IKJ, Jakarta. Termasuk bertemu Debu, grup musisi muslim Sufi yang anggotanya berasal dari Amerika Serikat, Swedia, Inggris, dan Indonesia.
Meski dulu sevdah sebenarnya adalah lagu-lagu yang biasa dinyanyikan kaum perempuan, namun lambat laun, musik ini juga ditampilkan oleh penyanyi laki-laki. Termasuk yang dibawakan Raffid kali ini. Ciri asli genre sevdah dengan temponya yang lambat, sendu dan melankolis, tampak dari lagu-lagu yang dinyanyikan Raffid.
Diiringi petikan apik gitar akustik Dimas Phetorant. Meski sendu dan melankolis dan semua lagu dinyanyikan dalam bahasa Bosnia (rumpun Bahasa Slavik, cabang rumpun bahasa Indo-Eropa, dituturkan di Eropa Timur, Eropa Selatan --Balkan), sevdah tetap begitu nyaman dinikmati.
Bila dulunya secara tradisional, sevdah dimainkan tanpa instrumen apa pun, lalu dalam perkembangannya, diikuti orkestra kecil, terdiri dari akordeon (paling menonjol), biola, gitar senar nilon dan/atau instrumen senar lainnya (kadang-kadang), seruling atau klarinet (kadang-kadang), bass tegak, snare drum, bahkan di sela-sela syair, akordeon atau biola solo hampir selalu terdengar, namun penampilan Raffid-Retno-Dimas kali ini beda.
Trio ini berimprovisasi, memadukan petikan gitar akustik nan lincah oleh Dimas, dengan daff, yang bergantian dipadu handpan atau hang drum. Ditambah gemericik tamborin gelang Kenari, yang dikenakan Raffid di pergelangan tangannya.
Daff atau drum bingkai Timur Tengah (mirip rebana, dengan lingkar yang lebih besar), menurut rhythmitica.com --milik akademi musik dunia di Toronto, Kanada, adalah salah satu alat musik tertua yang berumur lebih dari 3.000 tahun. Hal itu dibuktikan dengan banyaknya prasasti di seluruh dunia yang menunjukkan hal ini.
Sementara Handpan atau juga dikenal dengan Hang Drum adalah alat musik tabuh berbentuk mirip piringan UFO, dengan bunyi yang sangat unik, karena bisa menyerupai bunyi gong, lonceng, dan gamelan. Menurut infopublik. id Kementerian Komunikasi dan Informatika dan sylvainpasliermusic.com, alat musik ini diciptakan oleh dua orang asal Swiss, yaitu Felix Rohner dan Sabina Scharer pada tahun 2000.
Paduan apik dua budaya, Indonesia-Bosnia sore hingga petang itu benar-benar menampilkan kolaborasi budaya yang asyik dinikmati. Ditambah Dimas yang tampil mengenakan blankon Jawa, dan Retno yang mengenakan hijab dan balutan busana hijau dengan celana baggy lebar pengaruh Kesultanan Turki (Ottoman Empire), kian menguatkan sinkronisasi perkawinan kultural ini.
Tak terkecuali Raffid, yang tampil menonjol dengan gaya khas pakaian tradisional pria Bosnia dan Herzegovina, berkemeja putih, celana baggy, rompi kecil, ikat pinggang merah lebar, topi fez, yang juga menggabarkan pengaruh kuat budaya era Kesultanan Dinasti Turki Utsmani. Mengingat kesultanan ini pernah berkuasa hingga ke wilayah Balkan dan Eropa Tengah sekitar abad ke-14 sampai abad ke-16, menyebar hingga ke Bulgaria, Yugoslavia, Rumania, dan Yunani.
Lembutnya suara Raffid yang berduet dengan Retno, tak terasa membawa para penikmat seni di Cemara 6 Galeri-Museum melewati empat lagu; Emina (sevdah), Sredinom (pop), Kada ja podjoh na Benbasu dan Kraj tanana sadrvana (sevdah). Lagu terakhir bahkan dibawakan Retno secara solo.
Semenjak awal hingga akhir, acara ini dipandu oleh Debra H Yatim, jurnalis senior, yang juga dikenal sebagai aktivis sosial. Dia juga dikenal aktif berkontribusi di bidang pemberdayaan perempuan, seni dan budaya, dan sangat erat dengan perkembangan beberapa LSM perempuan. Bahkan Debra merupakan salah satu pendiri Yayasan Kalyanamitra, salah satu LSM perempuan tertua di Indonesia.
Di ujung acara, tak lupa Debra mengingatkan pengunjung untuk menikmati kuliner di pojok Cemara 6 Galeri-Museum. Termasuk kopi khas dari Bosnia-Herzegovina.
Komentar
Posting Komentar