RENCANA STRATEGIK PENDIDIKAN DALAM MENGHADAPI REVOLUSI INDUSTRI 5.0
A.
REVOLUSI INDUSTRI
1. SEJARAH
Revolusi industri yang kita kenal saat ini mempunyai
sejarah panjang. Awalnya, revolusi industri dimulai di benua Eropa lalu
menyebar keseluruh dunia. Pada periode tahun 1750-1850 atau saat revolusi
industri 1.0, terjadi perubahan besar-besaran dibidang transportasi, manufaktur,
pertambangan dan teknologi. Bermula dari penemuan mesin uap yang dapat diaplikasikan
untuk memproduksi barang-barang. Sebelum revolusi industri, dalam berbagai hal
di Eropa masih banyak menggunakan tenaga manusia dan hewan, yang kemudian
beralih berbasiskan menufaktur. Akhir abad ke-19, revolusi industri 2.0
ditandai dengan penemuan pembangkit tenaga listrik. Ditemukannya pesawat
terbang, telepon, mobil, mengubah dunia secara signifikan.
Revolusi industri 3.0 ditandai dengan munculnya
teknologi digital dan internet. Terjadi pengembangan pesat dari teknologi
sensor, interkoneksi, dan analisis data untuk mengintegrasikan seluruh
teknologi tersebut kedalam berbagai bidang industri. Istilah industri 4.0
muncul saat Hannover fair 2011 di Jerman. Revolusi industri 4.0 ditandai dengan
hadirnya sejumlah terobosan teknologi baru seperti robotika, pengolahan dan
pemanfaatan data yang masif (big data),
kecerdasan buatan (AI/artificial
intelligent), blockchain, internet of thing (IoT), dan lain sebagainya.
2. ERA
5.0
Konsep masyarakat masa depan yang dicita-citakan oleh pemerintah Jepang adalah masyarakat (society) 5.0. Society 5.0 didefinisikan sebagai masyarakat yang berpusat pada manusia yang menyeimbangkan antara kemajuan ekonomi dengan penyelesaian masalah sosial melalui sistem dengan mengintegrasikan ruang maya dan ruang fisik (Erwin, 2019). Dibandingkan dengan era 4.0 yang berfokus pada proses produksi, era society 5.0 lebih menekankan pada upaya menempatkan manusia sebagai pusat inovasi (human centered). Kemajuan teknologi dimanfaatkan untuk meningkatkan kualitas hidup, tanggung jawab sosial dan berkembang keberlanjutan. Era 5.0 membantu mengisi kesenjangan antara yang kaya dan yang kurang beruntung. Modal bukanlah yang utama, tetapi, data menghubungkan dan menggerakkan segalanya. Layanan kedokteran dan pendidikan, dari tingkat dasar hingga perguruan tinggi akan menjangkau desa-desa kecil. Ditandai dengan peningkatan program digitalisasi yang didukung oleh empat faktor: a) peningkatan volume data, kekuatan komputasi, dan konektivitas; b) munculnya analisis, kemampuan, dan kecerdasan bisnis; c) terjadinya bentuk interaksi baru antara manusia dengan mesin; dan d) instruksi transfer digital ke dunia fisik, seperti robotika dan 3D printing.
B. PENDIDIKAN
1. REALITA
Pembukaan Undang-Undang Dasar (UUD) Negara Republik Indonesia 1945 jelas mengamanatkan cita-cita kemerdekaan untuk menjadi bangsa maju yang sejahtera, cerdas, tertib dan berkarakter, damai abadi serta berkeadilan sosial. Visi Indonesia 2045 yaitu Indonesia Emas 2045 dengan jargon berdaulat, maju, adil dan makmur. Penguatan proses transformasi ekonomi dalam rangka pencapaian infrastruktur, layanan publik, kesejahteraan rakyat yang lebih baik serta kualitas sumber daya manusia (SDM).
Pendidikan berperan penting dalam meningkatkan
kualitas SDM. Pembangunan SDM akan memperhitungkan tren global terkait kemajuan
pesat teknologi, pergeseran sosio-kultural, perubahan lingkungan hidup, dan situasi
pandemi. Covid-19 telah merubah semua elemen kehidupan manusia, mulai dari
bidang sosial, budaya, ekonomi, agama dan pendidikan. Semuanya berjalan tidak
normal, sehingga terjadi perubahan atau era kebiasaan baru. Juga, kemajuan
teknologi revolusi industri 4.0 menuju era society
5.0 bersama dengan terobosan-terobosan yang menyertainya ikut mempengaruhi
segala sektor kehidupan. Di seluruh dunia dan disegala industri diterapkan
otomatisasi. Keterhubungan antar manusia juga semakin meningkat, difasilitasi
oleh teknologi, seperti konektivitas 5G yang memungkinkan munculnya kendaraan
otonom, dan delivery drone.
2. KENDALA
Problem pendidikan kita sangat kompleks, meliputi banyak hal. Seperti ketersediaan guru yang memadai, kompetensi guru, sarana dan prasarana pendukung serta keterlibatan orang tua dalam mendukung proses pendidikan anaknya. Namun, pandemi membuat pendidikan mengalami suatu problematika besar, yaitu transformasi pendidikan era 4.0 menuju era 5.0. Kita tergopoh-gopoh menghadapi, dimana kita masih berdaptasi pada era 4.0. Berbagai problematika lain seperti literasi digital yang tidak merata, terbatasnya sarana dan prasarana, SDM, kebocoran data digital, dan sebagainya. Pemerintah juga sudah menyiasati dengan konsep merdeka belajar, guru penggerak dan sekolah penggerak sebagai jawaban atas datangnya era 5.0. Perlu juga digarisbawahi, bahwa teknologi tidak bisa sepenuhnya mentransfer akhlak secara sendiri. Proses pendidikan harus tetap dibarengi interaksi sosial, kolaborasi antara pendidik, peserta didik, orangtua dan masyarakat.
C. RENCANA SRATEGIK
1. DEFINISI
Makna perencanaan tidak dapat berdiri sendiri dan terbatas pada satu pengertian. Hal itu disebabkan beragamnya makna perencanaan dalam berbagai bidang ilmu. Strategi dapat diartikan sebagai sesuatu yang dikerjakan oleh para jendral dalam membuat rencana untuk menaklukan musuh dan memenangkan perang (Purnomo, 1996: 8). Untuk memperoleh hasil akhir (kegunaan, misi, tujuan dan sasaran) yang maksimal pada sebuah organisasi, diperlukan strategi. Strategi adalah seperangkat keputusan dan tindakan yang menghasilkan formulasi dan implementasi dari rencana yang didesain untuk mencapai tujuan (Pearce & Robinson, 2000). Oleh sebab itu, strategi bukanlah sekedar rencana, melainkan rencana yang menyatukan. Rancangan yang bersifat sistematik dalam sebuah organisasi disebut dengan perencanaan strategik (Akdon, 2005: 5). Komponen strategi meliputi 3 bidang yaitu kompetensi unggulan, ruang lingkup, dan alokasi sumber daya (Griffin, 2004). Kompetensi unggulan adalah suatu yang dapat dilakukan dengan baik oleh suatu organisasi. Ruang lingkup (scope) dari suatu strategi merinci tentang pasar dimana suatu perusahaan atau organisasi akan bersaing. Kemudian alokasi sumber daya mencakup bagaimana suatu perusahaan akan mendistribusikan sumber-sumber dayanya di antara bidang-bidang yang merupakan lahan persaingannya.
2. MANAJEMEN STRATEGIK
Manajemen strategik merupakan proses yang membantu organisasi/lembaga/institusi untuk mengidentifikasikan apa yang ingin dicapai. Manajemen strategik adalah proses merumuskan dan menerapkan strategi untuk mencapai tujuan jangka panjang dan mempertahankan keunggulan kompetitif (Schermerhorn, 2005). Inti dari manajemen strategi adalah melihat ke depan, memahami lingkungan dan organisasi, secara efektif memposisikan organisasi untuk keunggulan kompetitif dalam mengubah berulang kali dan kemudian mencapainya.
Secara spesifik, enam komponen utama proses manajemen strategik menurut David (2009) yaitu: a) Mengembangkan visi dan misi. Visi adalah suatu keinginan terhadap keadaan masa depan yang dicita-citakan oleh organisasi. Dibuat oleh para pendiri organisasi. Misi adalah pernyataan jangka panjang tentang alasan yang membedakan antara organisasi satu dengan yang lainnya. b) Melakukan analisa internal. Apa dan bagaimana kekuatan dan kelemahan internal organisasi. c) Melakukan analisa eksternal. Dengan cara membuat daftar mengenai berbagai peluang yang dapat menguntungkan perusahaan dan berbagai ancaman yang harus dihindari. d) Strategi. Keterampilan dan ilmu memenangkan persaingan. e) Kebijakan. Meliputi garis pedoman, aturan dan prosedur untuk pencapaian tujuan organisasi. f) Evaluasi. Evaluasi strategi adalah alat utama untuk mendapatkan informasi. Semua strategi tunduk pada perubahan masa depan karena faktor eksternal dan internal yang terus berubah.
3. PENDEKATAN DAN BERPIKIR STRATEGIK
Bertahan dan bersaing di era 5.0 menjadi suatu tantangan tersendiri. Diperlukan pendekatan strategik dengan memahami kondisi masyarakat, keadaan pasar, kondisi produk, mengenali ekspansi bisnis nasional maupun internasional, dan penolakan terhadap perubahan. Setelah melakukan pendekatan, selanjutnya adalah berpikir strategis. Berpikir strategis adalah berpikir yang dirmulai dari refleksi atas inti utama terhadap suatu persoalan dan tantangan tangan utama yang ditangani organisasi. Fokusnya pada kemampuan penetapan perhatian pada kesadaran waktu mengacu pada pemahaman akan dinamika perubahan yang erat kaitannya dengan panjang pendeknya waktu yang dibutuhkan untuk suatu perubahan. Kemampuan berpikir strategis tercermin dalam mengangkat beragam dialema yang mendasar baik dalam kehidupan individu maupun dalam organisasional. Beberapa karakter dalam berpikir strategis diantaranya: berorientasi pada masa depan; tertarik pada apa yang sedang terjadi di seluruh lingkungan organisasinya baik yang berasal dari lingkungan eksternal maupun internal organisasi; fokus pada jangka panjang berinvestasi saat ini untuk mendapatkan hasil yang lebih baik hari esok; mampu membuat prioritas menempatkan nilai tinggi pada proyek proyek yang berpotensi dampak yang besar dan kembali; mampu menyesuaikan dan mengubah pendekatan mereka; tidak berhenti belajar dan kreatif.
Manfaat berpikir strategis untuk menjawab jejak
rekan perusahaan/lembaga dalam batasan kinerja, proses dan luaran; menjawab
pentingnya keberadaan misi perusahaan/lembaga yang dapat dirinci atau
menunjukan pengembangan alternatif untuk masa depan. Apa dan bagaimana kondisi
saat ini dengan masa depan, apa dan bagaimana omzet dan pangsa pasar, baik
secara implisit atau eksplisit yang bertujuan untuk mencapai keunggulan.
D. MANFAAT REVOLUSI INDUSTRI
Prancis sebagai negara yang terkenal dengan fashion-nya, tahun 2013 meluncurkan program 42 [https://www.42.fr] sebagai universitas masa depan dunia. Universitas yang digagas Xavier Niel (Presiden 42) merupakan pusat pendidikan yang berfokus dibidang teknologi komputer, dimana pedagogignya didasarkan pada peer-to-peer atau operasi partisipatif, tanpa kelas dan guru yang memungkinkan para mahasiswanya bekerja sesuai dengan kreativitasnya melalui pembelajaran berbasis proyek. Di Indonesia, model pendidikan konvensional yang digunakan masyarakat, perlahan bertransformasi menjadi pendidikan digital. Dengan memanfaatkan teknologi pada proses pembelajaran, penyelesaian berbagai tugas, peningkatan kompetensi mahasiswa, dosen, para karyawan dan pemangku jabatan. Mereka dituntut untuk beradaptasi dengan perubahan era/zaman.
Berdasarkan contoh di atas, manfaat revolusi dalam pendidikan antara lain: inovasi, inklusif, efisiensi dan sebagainya. Inovasi berupa strategi menggunakan digital untuk melahirkan model-model pendidikan baru. Adanya layanan pendidikan yang mampu menjangkau khalayak ramai di berbagai daerah. Manfaat yang diperoleh adalah orang yang tinggal jauh dari daerah metropolitan mampu menikmati pendidikan digital (inklusif). Semakin berkembangnya bidang pendidikan, sehingga masyarakat akan semakin terdidik. Persebaran informasi semakin cepat kepada semua masyarakat di berbagai daerah. Semua komponen di dalam suatu wilayah bisa semakin ikut berkontribusi untuk kemajuan pendidikan bersama (efisien).
E. DAMPAK REVOLUSI 4.0 - 5.0
Perubahan teknologi selalu membawa dua dampak bagi manusia yaitu positif dan negatif. Dampak positifnya adalah sebagai berikut:
1. Revolusi
industri mempunyai potensi memberdayakan individu dan masyarakat, menciptakan
peluang baru bagi ekonomi, sosial, maupun pengembangan diri pribadi.
2. Mempermudah
pekerjaan manusia terutama dalam kegiatan perindustrian.
3. Data
dan fasilitas produksi yang terhubung ke cloud
komputing juga menjamin keamanan data yang lebih baik, tertata dan ringkas.
4. Kemungkinan
terjadinya human error berkurang,
karena komputer yang menjadi “kontrol” bisa menghasilkan pekerjaan yang
konsisten.
5. Selain itu, hasil untuk banyak bisnis bisa meningkatkan pendapatan, pangsa pasar, dan keuntungan.
6. Besar kemungkinan sistem yang digunakan akan lebih canggih. Semua dapat dikontrol dan dikendalikan secara realtime.
Dampak negatifnya yaitu:
1. Kemungkinan
berkurangnya kebutuhan tenaga manusia dalam proses industri, karena semua sudah
dilakukan secara otomatis oleh mesin.
2. Isu
tentang keamanan data meningkat dengan mengintegrasikan sistem baru dan semakin
banyaknya akses kesistem itu.
3. Isu
privasi, terkait informasi, produksi dan kepemilikan.
4. Memerlukan
kontrol ketat dari manusia saat proses produksi. Karena tidak ada dan tidak
akan pernah ada kecerdasan AI yang mampu mengalahkan kecerdasan manusia.
F. BIG DATA
Big data adalah istilah yang menggambarkan volume data yang besar, baik data yang terstruktur maupun data yang tidak terstruktur. Tidak hanya besaran data saja yang menjadi poin penting, tetapi apa yang harus dilakukan organisasi dengan data tersebut. Big data dapat dianalisis untuk wawasan yang mengarah pada pengambilan keputusan dan strategi bisnis yang lebih baik. Big Data sering dikaitkan dengan SNS (Social Network Service).
Penggunaan big
data juga memunculkan paperless,
dimana semua kegiatan yang menggunakan kertas berganti ke penyimpanan data
digital berbentuk e-file seperti e-book. Sistem pembelajaran juga semakin dimudahkan. Siswa tidak
perlu membawa buku dalam jumlah besar dan tebal, cukup dengan penggunaan mesin
pencari seperti google dan ensiklopedia daring (wikipedia), informasi apapun
mudah untuk didapatkan.
Volume,
variety dan velocity
merupakan tiga karakteristik big
data. Volume menggambarkan ukuran
yang super besar, variety menggambarkan
jenis yang sangat beragam, dan velocity
menggambarkan laju pertumbuhan maupun perubahannya. Saat ini pemerintah mulai
menggunakan big data untuk memahami
prilaku warga di internet. Sehingga, jejak rekam digital tiap warga dapat
dijadikan sumber informasi yang bisa dimanfaatkan oleh orang lain.
G. RENCANA SRATEGIK PENDIDIKAN DALAM MENGHADAPI REVOLUSI INDUSTRI 5.0
1. VISI MISI
Visi Presiden tahun 2020-2024 adalah terwujudnya Indonesia maju yang berdaulat, mandiri, dan berkepribadian, berlandaskan gotong royong. Bahwa dalam menghadapi tantangan Abad 21, perlu melakukan transformasi, pembaharuan dan perbaikan signifikan dibidang pendidikan. Untuk itu, misi Kemendikbud dalam melaksanakan misi atau Nawacita kedua tersebut adalah sebagai berikut: 1) Mewujudkan pendidikan yang relevan dan berkualitas tinggi, merata dan berkelanjutan, didukung oleh infrastruktur dan teknologi; 2) Mewujudkan pelestarian dan pemajuan kebudayaan serta pengembangan bahasa dan sastra; 3) Mengoptimalkan peran serta seluruh pemangku kepentingan untuk mendukung transformasi dan reformasi pengelolaan pendidikan dan kebudayaan.
2. MERDEKA BELAJAR
Menghadapi era 5.0, dibutuhkan adanya perubahan paradigma pendidikan. Pentingnya memiliki SDM yang unggul, berkarakter, cerdas, dan berdaya saing. Merdeka belajar menjadi arah pembelajaran ke depan yang fokus pada meningkatkan kualitas SDM. Merdeka belajar merupakan permulaan dari gagasan untuk memperbaiki sistem pendidikan nasional. Merdeka belajar menjadi salah satu program untuk menciptakan suasana belajar di sekolah yang bahagia bagi peserta didik maupun para pendidik. Sebagai contoh perubahan pada paradigma pendidikan yaitu pendidik meminimalkan peran sebagai learning material provider, pendidik menjadi penginspirasi bagi tumbuhnya kreativitas peserta didik. Pendidik berperan sebagai fasilitator, tutor, penginspirasi dan pembelajar sejati yang memotivasi peserta didik untuk “merdeka belajar” [Nurani, 2021]. Merdeka belajar dapat dimaknai sebagai kebijakan strategis pemerintah maupun swasta dalam mendukung implementasi merdeka belajar, sesuai kebutuhan organisasi/lembaga/sekolah, serta pendanaan pendidikan yang efektif dan akuntabel. Salah satunya ditandai dengan otonomi satuan pendidikan dalam penyelenggaraan pendidikan. Selain itu, diperlukan manajemen tata kelola dari semua unsur, baik pemerintah daerah, swasta (industri dll), kepala sekolah, guru dan masyarakat.
3. PENDIDIKAN 5.0
Era 5.0 menggambarkan bentuk ke-5 dari perkembangan kemasyarakatan dalam sejarah manusia. Di era 4.0, orang-orang mengakses sebuah cloud service dalam ruang virtual melalui internet dan kemudian mencari, memperoleh, dan menganalisa informasi atau data. Dalam society 5.0, sejumlah besar informasi dari sensor-sensor dalam ruang nyata diakumulasi dalam ruang virtual. Dalam ruang virtual, data yang besar ini dianalisa oleh AI. Hasil analisis data akan diberikan kembali kepada manusia di ruang nyata dalam berbagai bentuk. Akibatnya, proses tersebut akan memberikan nilai baru kepada industri dan masyarakat dalam berbagai cara yang sebelumnya mustahil untuk dilakukan.
Pendidikan 5.0 adalah respons terhadap kebutuhan
revolusi industri 5.0 dimana manusia dan teknologi diselaraskan untuk
menciptakan peluang-peluang baru dengan kreatif dan inovatif. Menghadapi
kompleksitas kondisi kehidupan masyarakat 5.0, peserta didik tidak cukup
dibekali dengan kemampuan membaca, menulis dan berhitung atau lebih dikenal
dengan sebutan Tree R (reading, writing, arithmetic), tetapi
juga perlu dibekali kompetensi masyarakat global atau juga disebut kecakapan
abad 21. Dikenal dengan istilah 4C, yaitu critical
thinking (berpikir kritis), collaboration
(kolaborasi), communication (komunikasi), dan creativity
(Kreativitas). Trilling & Fadel (2009) berpendapat bahwa kecakapan abad 21
mencakup tiga macam, yaitu life and
career skills, learning and innovation skills, dan information media and technology skills. Penjelasannya dapat
dilihat pada ketiga tabel berikut.
Era 5.0 menggambarkan bentuk ke-5 dari perkembangan
kemasyarakatan dalam sejarah manusia. Di era 4.0, orang-orang mengakses sebuah cloud service dalam ruang virtual
melalui internet dan kemudian mencari, memperoleh, dan menganalisa informasi
atau data. Dalam society 5.0,
sejumlah besar informasi dari sensor-sensor dalam ruang nyata diakumulasi dalam
ruang digital. Dalam ruang virtual, data yang besar ini dianalisa oleh AI. Hasil
analisis data akan diberikan kembali kepada manusia di ruang nyata dalam
berbagai bentuk. Akibatnya, proses tersebut akan memberikan nilai baru kepada
industri dan masyarakat dalam berbagai cara yang sebelumnya mustahil untuk
dilakukan.
4. PENDIDIK 5.0
Pendidik abad 21 dituntut mampu melahirkan generasi bangsa yang mampu bersaing di era 5.0, 6.0, dan seterusnya. Pendidikan masyarakat 5.0 berfokus pada segala usia, setiap anak merupakan pembelajar. Pembelajaran diperoleh dari berbagai macam sumber bukan hanya dari buku saja, bisa dari internet, berbagai macam platform teknologi & informasi serta perkembangan kurikulum secara global. Pendidik harus beradaptasi dan memiliki keterampilan dibidang digital. Dengan cara memanfaatkan IoT, virtual/augmented reality (VR/AR), dan AI dalam dunia pendidikan, untuk mengetahui serta mengidentifikasi kebutuhan pembelajaran yang dibutuhkan oleh pembelajar. Dunwill [2016] mengatakan bahwa akan banyak perubahan di masa depan, dan memperkirakan bagaimana kecederungan kelas (classroom) akan terlihat dalam lima sampai tujuh tahun ke depan, yakni perubahan besar dalam tata ruang kelas, VR/AR akan mengubah lanskap pendidikan, tugas yang fleksibel yang mengakomodasi banyak gaya/preferensi belajar, Massive Open Online Course (MOOC/pembelajaran daring terbuka dan terpadu) dan opsi pembelajaran daring lainnya akan berdampak pada pendidikan.
Latip [2018] mengemukakan bahwa setidaknya ada empat kompetensi yang harus dimiliki oleh pendidik era ini, yakni 1) pendidik harus mampu melakukan penilaian secara komprehensif; 2) pendidik harus memiliki kompetensi abad 21: karakter, akhlak dan literasi; 3) pendidik harus mampu menyajikan modul sesuai passion siswa; dan 4) pendidik harus mampu melakukan autentic learning yang inovatif. Generasi Z (Gen Z) yang berusia 18 dan 23 tahun sangat akrab dengan alat digital. Alat tersebut tersedia setiap waktu, saat mereka membutuhkannya. Pendidik dapat memilih berbagai model pembelajaran seperti problem based learning, inquiry learning, hybrid/blended learning dan lainnya. Pembelajar disiapkan dengan kurikulum yang memiliki muatan teknologi (IoT, VR, AR, AI). Singkatnya, kurikulum harus link and match antara sekolah dengan dunia usaha dan industri.
5. PELAJAR 5.0
Peserta didik abad 21 adalah generasi kreatif, inovatif serta kompetitif. Peserta didik belajar secara adaptif dengan media belajar sesuai dengan kemampuannya. Peserta didik juga memiliki pilihan dalam menentukan bagaimana mereka belajar. Hal itu sesuai dengan pelajar Pancasila. Pelajar Pancasila adalah perwujudan pelajar Indonesia sebagai pelajar sepanjang hayat yang memiliki kompetensi global dan berperilaku sesuai dengan nilai-nilai Pancasila. Enam ciri pelajar Pancasila yaitu: a) beriman, bertakwa kepada Tuhan YME, dan berakhlak mulia; b) berkebinekaan global; c) bergotong royong; d) mandiri, bernalar kritis; dan f) kreatif.
Pendidikan bukan soal seberapa banyak hal yang kau ingat atau yang kau ketahui, melainkan kemampuan untuk membedakan antara apa yang kau mengerti dan yang tidak kau mengerti - Anatole France

Komentar
Posting Komentar