Rancangan Pelatihan Menggunakan Model Addie
Penelitian dalam bidang pendidikan tidak diarahkan pada pengembangan suatu
produk, tetapi ditujukan untuk menemukan pengetahuan baru berkenaan dengan
fenomena-fenomena yang bersifat fundamental, serta praktik-praktik pendidikan.
Penelitian tentang fenomena-fenomena fundamental pendidikan tersebut dilakukan
melalui penelitian dasar (basic research), sedang penelitian tentang praktik pendidikan
dilakukan melalui penelitian terapan (applied research). Beberapa penelitian terapan
secara sengaja diarahkan pada pengembangan produk, beberapa penelitian lain
mengembangkan suatu produk secara tidak sengaja, karena dalam penelitiannya
mengandung atau menuntut pengembangan produk.
Penelitian dan pengembangan merupakan metode penghubung atau pemutus
kesenjangan antara penelitian dasar dengan penelitian terapan. Sering dihadapi adanya
kesenjangan antara hasil-hasil penelitian dasar yang bersifat teoritis dengan penelitian
terapan yang bersifat praktis. Kesenjangan ini dapat dihilangkan atau disambungkan
dengan penelitian dan pengembangan. Sesuatu produk yang dihasilkan tentu saja
memiliki karakteristik-karakteristik tertentu. Karakteristik tersebut merupakan
perpaduan dari sejumlah konsep, prinsip, asumsi, hipotesis, prosedur berkenaan
dengan sesuatu hal yang telah ditemukan atau dihasilkan dari penelitian dasar.
Educational Research and Development biasa juga disebut Research Based
Development. “Educational Research and Development is a process used to develop and
validate educational products” (Borg and Gall, 1989:772). Penelitian dan
Pengembangan adalah suatu proses atau langkah-langkah untuk mengembangkan
suatu produk baru atau menyempurnakan produk yang telah ada. Produk dalam
konteks ini adalah tidak selalu berbentuk hardware (buku, modul, alat bantu
pembelajaran di kelas dan laboratorium), tetapi bisa juga perangkat lunak (software)
seperti program untuk pengolahan data, pembelajaran di kelas, perpustakaan atau
laboratorium, ataupun model- model pendidikan, pembelajaran pelatihan, bimbingan, evaluasi, manajemen dan lainnya. Karakteristik penelitian Research & Development
(R&D) adalah berbentuk siklus, yang diawali dengan adanya kebutuhan, permasalahan
yang membutuhkan pemecahan dengan suatu produk tertentu. Dalam bidang
pendidikan, produk-produk yang dihasilkan melalui penelitian R&D diharapkan dapat
meningkatkan produktivitas pendidikan, yaitu lulusan yang jumlahnya banyak,
berkualitas, dan relevan dengan kebutuhan.
Model Pengembangan merupakan dasar untuk mengembangkan produk yang
akan dihasilkan. Dengan model, suatu informasi yang kompleks atau rumit akan
disajikan menjadi sesuatu yang lebih sederhana dan mudah dipahami. Sebuah model
dalam penelitian pengembangan memberikan kerangka kerja untuk pengembangan
teori dan penelitian. Dengan mengikuti model tertentu yang dianut peneliti, maka akan
diperoleh sejumlah masukan (input) guna dilakukan penyempurnaan produk yang
dihasilkan, apakah berupa bahan ajar, media, atau produk-produk lain (Setyosari,
2012). Model berorientasi kelas biasanya ditujukan untuk mendesain pembelajaran
level mikro (kelas) yang hanya dilakukan setiap dua jam pelajaran atau lebih.
Contohnya adalah model ASSURE.
Model berorientasi produk adalah model desain pembelajaran
untuk menghasilkan suatu produk biasanya media pembelajaran misalnya, video
pembelajaran, multimedia pembelajaran atau modul. Contoh modelnya adalah model
Hannafin and Peck. Model berorientasi sistem yaitu model desain pembelajaran untuk
menghasilkan suatu sistem pembelajaran yang cakupannya luas seperti desain sistem
suatu pelatihan kurikulum sekolah. Contohnya adalah model ADDIE. Selain itu ada pula
yang biasa kita sebut sebagai model prosedural dan model melingkar. Contohnya dari
model prosedural adalah model Dick and Carrey dan contoh model melingkar adalah
model Kemp. Dari sekian banyak model penelitian pengembangan yang dapat
digunakan, pada pembahasan kali ini, hanya akan sedikit mengulas mengenai
penelitian pengembangan dengan model ADDIE.
Pelatihan merupakan kegiatan yang terfokus pada evaluasi terhadap pekerjaan
yang individu saat ini pegang, pelatihan mengacu untuk menjembatani kesenjangan
antara kinerja saat ini dan kinerja standar yang diinginkan oleh perusahaan
(Oluwaseun, 2018).
Model Analysis Design Development Implementation Evaluation (ADDIE) pertama
kali dikembangkan pada tahun 1975 oleh Florida State University dan kemudian
diadikan pedoman untuk pengembangan training oleh Armed Services. Model ini
disebut juga SAT (System Approach to Training) dalam dunia militer, atau ISD
(Instructional Sytem Development) dalam dunia sipil. Tahun 1990-an, model ini
dikembangkan oleh Reiser dan Mollenda. ADDIE adalah Model pengembangan yang
beroreintasi sistem yaitu model desain pembelajaran untuk menghasilkan suatu sistem
pembelajaran yang cakupannya luas, seperti desain sistem pelatihan, kurikulum
sekolah, sistem pengajaran dan lainnya.
Model ADDIE sering digunakan untuk menggambarkan pendekatan sistematis
untuk pengembangan instruksional dan program pelatihan. Selain itu, model ADDIE
merupakan model pembelajaran yang bersifat umum dan sesuai digunakan untuk
penelitian pengembangan. Ketika digunakan dalam pengembangan, proses ini dianggap
berurutan tetapi juga interaktif (Mollenda, 2003), di mana hasil evaluasi setiap tahap
dapat membawa pengembangan pembelajaran ke tahap sebelumnya. Hasil akhir dari
suatu tahap merupakan produk awal bagi tahap selanjutnya. Model ADDIE adalah
jembatan antara peserta didik, materi, dan semua bentuk media, berbasis teknologi dan
bukan teknologi. Model ini mengasumsikan bahwa cara pembelajaran tidak hanya
menggunakan pertemuaan kuliah, buku teks, tetapi juga memungkinkan untuk
menggabungkan belajar di luar kelas dan teknologi ke dalam materi pelajaran.
Model ADDIE berorientasi pada sistem, namun model ini dapat digunakan untuk
berbagai macam bentuk pengembangan produk seperti model, strategi pembelajaran,
metode pembelajaran, media dan bahan ajar. Model ADDIE, sesuai dengan namanya,
terdiri dari lima fase atau tahap utama, yaitu (A) Analysis, (D) Design, (D)
Development, (I) Implementation, (E) Evaluation. Contoh penelitian pengembangan
yang menggunakan model ADDIE: Pengembangan Paket Pembelajaran Mata Pelajaran
Bahasa Inggris Bermedia Interaktif dengan Model ADDIE, Tesis Ahmad Bahruddin,
UNM, 2010; Desain Kurikulum Pelatihan Berbasis Kompetensi (Pengembangan Diklat
Sistemik Model ADDIE), Cepi Safrrudin Abd. Jabar, MP – FIP UNY, 2011.
Tahap pertama adalah analisis. Menganalisis pengembangan model/metode
pembelajaran baru dan menganalisis kelayakan dan syarat-syarat pengembangan
model/metode pembelajaran baru. Pengembangan metode pembelajaran baru diawali
oleh adanya masalah dalam model/metode pembelajaran yang sudah diterapkan.
Masalah dapat terjadi karena model/metode pembelajaran yang ada sekarang sudah
tidak relevan dengan manajemen, kebutuhan sasaran, lingkungan belajar, teknologi,
karakteristik peserta didik dan lainnya.
Setelah analisis masalah perlunya pengembangan model/metode pembelajaran
baru, peneliti juga perlu menganalisis kelayakan dan syarat-syarat pengembangan
model/metode pembelajaran baru tersebut. Proses analisis misalnya dilakukan dengan
menjawab beberapa pertanyaan berikut ini: (1) apakah model/metode baru mampu
mengatasi masalah pembelajaran yang dihadapi, (2) apakah model/metode baru
mendapat dukungan fasilitas untuk diterapkan; (3) apakah dosen atau guru mampu
menerapkan model/metode pembelajaran baru tersebut Dalam analisis ini, jangan
sampai terjadi ada rancangan model/metode yang bagus tetapi tidak dapat diterapkan
karena beberapa keterbatasan misalnya saja tidak ada alat atau guru tidak mampu
untuk melaksanakannya. Analisis metode pembelajaran baru perlu dilakukan untuk
mengetahui kelayakan apabila metode pembelajaran tersebut diterapkan.
Desain merupakan langkah kedua dari model ADDIE. Pada langkah ini diperlukan
adanya klarifikasi program pembelajaran yang didesain sehingga program tersebut
dapat mencapai tujuan pembelajaran yang diharapkan. Langkah yang paling penting
yang perlu dikulakukan dalam desain adalah menentukan pengalaman belajar atau
learning experience yang perlu dimiliki oleh siswa selama mengikuti aktivitas
pembelajaran. Langkah desain harus mampu menjawab pertanyaan apakah program
pembelajaran yang didesain dapat digunakan untuk mengatasi masalah kesenjangan
performa (performance gap) yang terjadi pada diri siswa (Pribadi, 2011).
Tahap desain memiliki kemiripan dengan merancang kegiatan belajar mengajar.
Kegiatan ini merupakan proses sistematik yang dimulai dari menetapkan tujuan
belajar, merancang skenario atau kegiatan belajar mengajar, merancang perangkat pembelajaran, merancang materi pembelajaran dan alat evaluasi hasil belajar.
Rancangan model/metode pembelajaran ini masih bersifat konseptual dan akan
mendasari proses pengembangan berikutnya.
Langkah ketiga dari model ini adalah Development atau pengembangan. Langkah
ini berisi kegiatan realisasi rancangan produk. Dalam tahap desain, telah disusun
kerangka konseptual penerapan model/metode pembelajaran baru. Dalam tahap
pengembangan, kerangka yang masih konseptual tersebut direalisasikan menjadi
produk yang siap diimplementasikan. Sebagai contoh, apabila pada tahap design telah
dirancang penggunaan model/metode baru yang masih konseptual, maka pada tahap
pengembangan disiapkan atau dibuat perangkat pembelajaran dengan model/metode
baru tersebut seperti RPP, media dan materi pelajaran.
Pengembangan adalah proses mewujudkan blue-print atau desain yang telah
dibuat menjadi kenyataan. Artinya, jika dalam desain diperlukan suatu software berupa
multimedia pembelajaran, maka multimedia tersebut harus dikembangkan. Atau
diperlukan modul cetak, maka modul tersebut perlu dikembangkan. Begitu pula halnya
dengan lingkungan belajar lain yang akan mendukung proses pembelajaran semuanya
harus disiapkan dalam tahap ini. Langkah pengembangan ini meliputi kegiatan
membuat, membeli dan memodifikasi bahan ajar atau learning materials untuk
mencapai tujuan pembelajaran yang telah ditentukan. Pengadaan bahan ajar perlu
disesuaikan dengan tujuan pembelajaran spesifik atau learning outcomes yang telah
dirumuskan oleh desainer dalam langkah desain.
Implementasi atau penyampaian materi pembelajaran merupakan langkah
keempat dari model ADDIE. Langkah implementasi sering diasosiasikan dengan
penyelenggaraan program pembelajaraan itu sendiri. Langkah ini memang mempunyai
makna adanya penyampaian materi pembelajaran dari atau instruktur kepada siswa.
Pada tahap ini diimplementasikan rancangan dan metode yang telah
dikembangkan pada situasi yang nyata yaitu di kelas. Selama implementasi, rancangan
model/metode yang telah dikembangkan diterapkan pada kondisi yang sebenarnya.
Materi disampaikan sesuai dengan model/metode baru yang dikembangkan. Setelah
penerapan metode kemudian dilakukan evaluasi awal untuk memberi umpan balik
pada penerapan model/metode berikutnya.
Evaluasi adalah proses untuk melihat apakah sistem pembelajaran atau produk
yang sedang dikembangkan berhasil, sesuai dengan harapan awal atau tidak.
Sebenarnya tahap evaluasi bisa terjadi pada setiap empat tahap di atas. Evaluasi yang
terjadi pada setiap empat tahap diatas itu dinamakan evaluasi formatif, karena
tujuannya untuk kebutuhan revisi. Misal, pada tahap rancangan, mungkin kita
memerlukan salah satu bentuk evaluasi formatif misalnya review ahli untuk
memberikan input terhadap rancangan yang sedang kita buat. Pada tahap
pengembangan, mungkin perlu uji coba dari produk yang kita kembangkan atau
mungkin perlu evaluasi kelompok kecil dan lain-lain.
Tahap akhir, program diselenggarakan evaluasi sumatif. Evaluasi sumatif
mengukur kompetensi akhir dari mata pelajaran atau tujuan pembelajaran yang ingin
dicapai. Hasil evaluasi digunakan untuk memberi umpan balik kepada pihak pengguna model/metode atau produk. Revisi dibuat sesuai dengan hasil evaluasi atau kebutuhan
yang belum dapat dipenuhi oleh model/metode atau produk baru tersebut.
Kelebihan model ADDIE sederhana dan mudah dipelajari serta strukturnya yang
sistematis. Model ADDIE ini terdiri dari 5 komponen yang saling berkaitan dan
terstruktur secara sistematis yang artinya dari tahapan yang pertama sampai tahapan
yang kelima dalam pengaplikasiannya harus secara sistematik, tidak bisa diurutkan
secara acak atau kita bisa memilih mana yang menurut kita ingin didahulukan. Kelima
tahap/langkah ini sudah sangat sederhana jika dibandingkan dengan model desain
yang lainnya. Sifatnya yang sederhana dan terstruktur dengan sistematis maka model
desain ini akan mudah dipelajari oleh para pendidik.
Kekurangan dari model ini adalah dalam tahap analisis memerlukan waktu yang
lama. Dalam tahap analisis ini pendesain/pendidik diharapkan mampu menganalisis
dua komponen dari siswa terlebih dahulu dengan membagi analisis menjadi dua yaitu
analisis kinerja dan alisis kebutuhan. Dua komponen analisis ini yang nantinya akan
mempengaruhi lamanya proses menganalisis siswa sebelum tahap pembelajaran
dilaksanakan. Dua komponen ini merupakan hal yang penting karena akan
mempengaruhi tahap mendesain pembelajaran yang selanjutnya.
mks Pak Dimas...mantap baru sekilas baca nanti sy baca lagi
BalasHapusTerima kasih pak. Salam
Hapus