Pagebluk Panjang
Terpikir dengan adanya vaksin, sirnalah virusnya. Ternyata tidak, muncul varian-varian baru, dengan nama beragam. Sebagai contoh, andai kamu suka roti coklat, bisa ditambahkan keju, sehingga berubah namanya menjadi roti coklat keju, dan seterusnya. Jenis vaksinnya juga banyak, masing-masing produsen mengklaim vaksinnya yang paling ampuh, yakin? Banyak beredar kabar, bahwa ada yang sudah divaksin dua kali, masih juga terkena kopit. Mungkinkah virusnya sudah bermutasi? Atau perlu vaksin lain? Muncul pertanyaan, apakah ini bisnis? Apakah ini senjata biologis? Semua dalam kekaburan.
Masyarakat tentu sudah berusaha mangikuti anjuran untuk mencegah penularan flu dengan protokol kesehatan. Tetapi memang, banyak keanekaragaman dalam masyarakat. Ada yang disiplin dengan anjuran, ada yang setengah-tengah, juga ada yang dibawah setengah. Sampai, ada yang menerima kunjungan tamu dari Negara lain, yang notabene banyak membawa jenis virus baru. Namanya juga variasi, begitu bukan? Nampaknya, menjadi normal kembali perlu waktu panjang. Dana yang keluar triliunan. Apakah menunggu ke-cuan-an elit besar dalam wabah, atau ada tujuan lain? Perubahan besar tak dapat dielakkan. Semua menjadi meraba, kemana ujungnya, tak menentu. Dalam kevariasian, baik itu virus, vaksin atau masyarakat, kita harus bersahabat. Sampai, terbentuk antibodi alami dalam tubuh, dan itu membutuhkan banyak periode. Begitulah adanya.

Komentar
Posting Komentar