Gaya Tulis



Buat saya, seni ya seni. Dia tidak indah, hanya Imaji. Jika pun indah tak mengapa, galibnya seperti itu. Sayang, indah bukanlah seni, indah adalah Imaji, bukan nama sebenarnya. Itu mawar bukan? 

Menulis itu seni mengkomposisi. Banyak gayanya, ada gaya vickynisasi, gaya rock and roll, gaya jazz, gaya berbelit, gaya ngak ngik ngok, gaya dangdut sampai garda depan. Bahkan, menulis hanya dengan simbol, tanda baca, tanda lain, tersiar ribuan makna. Pemaknaannya dapat berbeda sesama pembaca.

Ada yang mempunyai pakem, ada yang spontan, sampai menunggu wangsit datang. Jika menulis itu seni, keautentikan menjadi penting. Keterpengaruhan sudah pasti, karena tidak ada yang sejati. Sama-sama berpijak di atas tanah, berjemur bersama mentari.

Menuangkan Imaji pada layar mini tak lazim terdengar. Layar sebagai media, berkolaborasi dengan jari. Keduanya sigap menuliskan gagasan yang datang silih berganti. Datang tak diundang, pergi tanpa pamit. Memang demikian adanya, semua terasa cepat. Ketidakpastian tak berujung. 


Komentar

Postingan Populer