Jurnalisme Musik


Dua kosong dua kosong merupakan tahun spesial. Bagaimana tidak, dunia dihebohkan dengan kovid satu sembilan. Semua terkena dampaknya. Bidang ekonomi, pendidikan, perdagangan, seni, teknologi, dsb. Dunia resah dan gelisah, entah sampai kapan keadaan seperti ini berlalu.

Pendidikan yang galibnya bertatap muka, berjumpa, bercengkrama secara luring, perlahan di ubah secara daring. Tak terkecuali pada seni, terkhusus musik, juga demikian. Pendigitalisasian seakan menemukan momennya. Perubahan masyarakat dalam menerima, mencari suatu informasi.

Mudahnya menemukan berita, menjadi permasalahan tersendiri. Utamanya kesahihan sebuah berita. Saling lempar melempar menjadi biasa. Kita harus bisa memilah kabar tersebut nge-prank atau bukan. Terlebih dalam hal jurnalisme.

Pendekatan penulisan dalam jurnalisme, berangkat dari fakta dan data. Tetapi, dalam jenis jurnalisme tertentu, Musik misalnya, seorang jurnalis dapat menjadi subjektif. Ada banyak faktor, pengetahuan, pengalaman, referensi, dan lainnya. Fungsi seorang jurnalis musik adalah memberikan informasi, kritik dalam industri musik. 

Awalnya, Charles Avison membuat buku berjudul Essay on Musical Expression tahun 1752. Sebuah buku yang konon menjadi cikal bakal kritik musik. Di Indonesia, menurut Amir Pasaribu, munculnya kritik musik tak bisa dilepaskan dari masuknya musik Amerika era 1940-an. Sebelumnya, pada 1934, terbit majalah De NIROM yang hanya mengulas musik-musik Barat. Setahun kemudian (1935), De NIROM berganti nama menjadi Soeara NIROM yang menggunakan bahasa melayu.

Seni adalah ekspresi kreatif yang dimanifestasikan dalam berbagai media. Musik, bukan hanya persoalan bunyi. Musik merupakan disiplin akademik bak ilmu lain-nya. Musik dapat diujicobakan, diberitakan, bahkan di ulas. Ruang lingkup jurnalisme Musik sangat luas. Dari yang umum seperti ulasan album, pertunjukan musik, dan wawancara. Secara spesifik juga dapat bersinergi dengan disiplin ilmu lain-nya.

Akhirnya, jurnalisme Musik tidak bisa dilepaskan dari industri. Tidak ada yang salah dalam mencari profit. Tetapi juga tidak membangun opini berlebihan. Seolah-olah paling ter titik-titik. Padahal biasa saja. Sulit memang, kalau bisa, kenapa tidak? - Dimas Phetorant 

Komentar

Postingan Populer