Syukur!
Kisah berikut benar adanya. Namanya pak Rafi, sebut saja demikian. Cukup lama saya tak berkunjung ke tempatnya untuk sekedar melemaskan otot-otot yang regang. Rumahnya sangat sederhana, hanya sepetak. Beliau tinggal bersama istri dan anaknya. Kamis lalu saya berkunjung ke tempatnya sehabis Ashar. Seperti biasa, dari kejauhan beliau terlihat asyik bermain. Saya dipanggilnya pak 'Sarno'. Sebenarnya itu bukan nama saya, tapi saya mengiyakan saja. Beliau beserta istri mempunyai hambatan dalam indra penglihatan. Sebaliknya, Indra pendengarannya sangat peka. Sebelum dipersilahkan untuk masuk, saya menunggu sebentar sambil duduk di atas motor. Sore itu, lewatlah seorang yang memang mata pencahariannya mencari barang-barang bekas. Tertegun untuk beberapa saat, pak Rafi ternyata mengumpulkan/menyiapkan botol bekas yang tak terpakai dan dipersilakan 'pemulung' itu mengambilnya. Istrinya juga menawarkan karton bekas yang digunakan sebagai alas duduk untuk dibawanya. Karton itu kulihat masih baru! Gimana pak, kemaren terkena banjir tidak sapa pak Rafi. Tidak pak, tapi di kampung kena ujarnya. Sudah beberapa hari ini juga tidak bisa 'narik' pak. Dialog santai tersebut terus berlanjut, saya hanya menyimaknya. Sebelum pemulung tersebut melanjutkan perjalanannya, beliau berucap kepada pak Rafi, yang penting sehat pak! Lagi-lagi saya hanya diam tak bergerak. Pak Rafi kemudian bercerita, bahwa rumanya terkena banjir. Semata kaki lebih sedikit katanya. Beliau menyikapinya dengan biasa saja, tidak dengan istrinya yang mengomel. Saya cuma ketawain saja pak. Habis mau bagaimana pak, percuma juga mau marah katanya sambil tertawa. Hahaha. Tentu masih banyak lagi yang dapat di 'ambil' dari beliau ini. Dengan keterbatasannya beliau masih dapat membantu, berbagi dengan 'yang lain'. Di satu sisi adakalanya ironis dengan kegemerlapan sebegitu rupa, masih kurang, kurang dan kurang. Klise memang, bersyukur atas nikmat-Nya itu bahagia!

Komentar
Posting Komentar